Pengaruh Westernisasi terhadap Masyarakat Pedesaan

 

  1. A. Pendahuluan.
  2. a. Latar Belakang Persoalan

Sebagaimana kita tahu bahwa Sebuah Konteks Masyarakat Pedesaan memiliki potensi yang luar biasa, sebagai sebuah investasi bagi sebuah peradaban dan suatu bangsa. Sangat Penting bagi suatu bangsa untuk mempertahankan identitas dan kultur yang menjadi kebanggaan bangsanya. Setiap Kebudayaan, Nilai nilai, adat istiadat, apabila kita tetap melestarikan dan menjunjung tinggi nilai nilai kedaerahan tersebut, salah satunya adalah nilai nilai dan kultur di peedasaan, karena di pedesaan lah dimana sebuah identitas bangsa kita masih relevan untuk dipertahankan. Selain itu, Pedesaan juga memiliki peranan penting bagi bangsa dan Negara disamping perkotaan.Salah satu fungsi dan peranan pedesaan yang fundamental bagi Bagsa ini adalah Pedesaan adalah Penghasil Sumber pangan utama, khususnya Pertanian, disamping perkebunan dan pertambangan.Dimana Segala Produksi sumber sumber pangan untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat semuanya dihasilkan dari pertanian pertanian di pedesaan. Sehingga sangat penting bagi Kita, untuk tetap menjaga stabilitas kondisi Pedesaan agar tetap mampu melestarikan sumber sumber alam dan kekuatan Produksi dalam bidang Industri Agraria, sehingga Pemroduksian hasil tani tetap stabil,dan tetap menjaga kestabilan pada sisi perkeonomian dan kebutuhan pangan nasional. Disamping sisi pertanian, yang juga cukup penting adalah hasil produksi perkebunan , yang tentunya merupakan hasil Produksi dari pedesaan dengan sumber sumber alam yang dimilikinya. Meskipun bukan sebagai sumber pangan utama seperti halnya hasil pertanian, hasil perkebunan seperti halnya karet, cengkeh, buah buahan, sayur sayuran, bahan rempah rempah, dan yang selainnya , Semua hasil perkebunan tetap menjadi kebutuhan penting untuk menciptakan kemakmuran rakyat Indonesia. Apabila semua hasil Pertanian dan perkebunan dioptimalkan produksinya dengan seoptimal optimalnya maka akan memajukan perekonomian baik secara pemerataan maupun pertumbuhan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena sebagaimana kita tahu bahwa Bangsa Indonesia ini dianugerahi kekayaan alam yang begitu melimpah diserta dengan iklim tropis yang sangat mempu memacu perindustrian agrarian dengan Pertanian dan Perkebunannya. Apabila kita membandingkannya dengan Negara Negara lain, masih tidak ada Negara yang mampu menyaingi Kekayaan alam Indonesia. Indonesia dengan tanahnya yang subur serta iklim yang menduking tentunya tidak diragukan lagi akan menjadi sumber pendapatan dan penunjang utama pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat, tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan nasional , melainkan sebagai komoditi yang sangat bisa untuk diekspor lain sehingga membuat Negara berkembang ini menjadi Negara maju sebgaia Negara Pengekspor pada komoditi pertanian dan perkebunan.

Maka dari itu, penting bagi Pemerintah, tokoh masyarakat, warga pedesaan, dan semua elemen yang terlibat untuk mendorong kemajuan Perindustrian dalam bidang pertanian, bagaimana semua pihak turut mendorong dan menjaga stabilitas kondisi perekonomian makro Negara sehingga Petani tetap memiliki modal, kemampuan produksi dan panen hasil tani, menstabilkan harga pasar beras sehingga Petani tetap terpacu untuk mengembangkan pertaniannya di pedesaan karena mau tidak mau kesejahteraan petani juga harus diperhatikan. Selain itu, infrastruktur untuk mendorong pertanian dan perkebunan juga harus dipenuhi, karena apabila biaya produksi dan modal pertanian semakin tinggi, maka hal ini akan berdampak lesunya industry pertanian yang akan mengurangi tingkat kemampuan Petani dan industry perkebunan karena tidak mampu bersaing dan bukan tidak mungkin industry akan mati. Oleh karena itu , seluruh bidang dan elemen yang itu mendukung kemajuan dan bertahannya industry pertanian dan perkebunan hendaklah dipenuhi , dan hal itu tentunya memerlukan kerjasama, kordinasi yang baik antara pemerintah, tokoh masyarakat, serta semua warga desa, uatamanya warga pedesaan.

Namun, Seiring kemajuan zaman dimana budaya dan nilai nilai berkembang dalam era makro Globalisasi, menurut pengamatan Penulis, banyak dinamika yang terjadi yang tidak menutup kemungkinan akan adanya pergesaran pergeseran kultur yang juga member efek pada perekonomian pedesaan yang ditopang dari sector pertanian dan perkebunan. Belakangan kita tahu Indonesia sebagai Negara berkembang tentunya tidak terlepas dari hegemoni Negara Negara barat.Sehingga, nilai nilai barat yang sangat kental dengan Nilai nilai kebebasan sangat mudah masuk ke masyarakat kita. Selain itu, Produk produk barat pun kini juga mulai melekat di masyarakat kita, sehingga menjadi tren tersendiri yang pada akhirnya menjadi style, gaya hidup, dan prestisius tersendiri di kalangan Masyarakat kita .Hal diatas saya istilahkan disini sebagai Westernisasi, masuknya budaya budaya barat ke masyarakat bangsa Indonesia. Untuk Masyarakat Desa mungkin dampaknya masih belum bisa dirasakan sebesar masyarakat yang ada di perkotaan, namun bukan berarti hal itu tidak akan terjadi di masyarakat pedesaan. Karena Cepat atau lambat pengaruh westernisasi pasti akan merambat seperti virus virus yang akan menggerogoti sendi sendi nilai kebudayaan di wilayah pedesaan sekalipun, dikarenakan budaya budaya barat lebih menawarkan sesuatu yang lebihn instan, praktis, dan berbagai macam kemududahan yang dipandang lebih modern. Sehingga, dalam benak masyarakat kita segala produk barat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia barat dipandang lebih maju. Meskipun dampak tersebut belum terlihat signifikan, namun untuk saat ini kita mungkin sedikit merasakan dampak masuknya nilai nilai dan budaya barat yang tidak hanya di wilayah perkotaan tetapi juga wilayah pedesaan, Hal ini dapat kta lihat dengan semakin berkembanganya teknologi informasi dan berbagai macam produk barat yang mulai banyak menjamur. Sehingga, secara tidak langsung, mulai dari teknologi TV, handphone, jaringan internet yang semakin mudah diakses, dengan sangat mudahnya akan menjadi jalur untuk masuknya paham paham, kultur, dan nilai nilai barat, yang kemudian akan berkembang menjadi Pola dan gaya hidup Masyarakat Pedesaan.

Tentunya hal tersebut bukanlah hal yang diinginkan oleh kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki jati diri dan identitas sebagaui bangsa Indonesia yang mandiri dan berdaulat. Oleh karena itu, Perlu kita cermati kembali Hal hal yang sekiranya dapat merusak nilai nilai kedaerahan , utamanya yang berkembenag di pedesaan, mengingat peranan Masyarakat Pedesaan yang cukup penting didalam Negara kesatuan kita ini.

  1. b. Tujuan

Dengan Melihat beberapa Persoalan diatas, maka disini Penulis mencoba untuk merumuskan bagaimana dampak dampak yang  akan terjadi apabila Nilai nilai dan kultur Barat masuk ke masyarakat Pedesaan (Terjadinya Westernisasi pada masyarakat desa), karena kita tahu bahwa Seiring dengan Berkembangnya Globalisasi di ranah dunia kita ini, yang ditandai dengan semakin berkembang pesatnya Industri di bidang Teknologi, Informasi, ekonomi, serta pembangunan infrstruktur, dimana hal tersebut akan memebrika banyak kemudahan, kecepatan, dan kepraktisan dalam segala bidang. Sehingga, hal itulah yang pada akhirnya melahirkan Kultur kultur barat dimana segala sesuatu yang lebih menawarkan kecepatan, kemudahan, yang notabene adalah produk produk barat akan dipandanga sebagai sesuatu yang lebih baik, modern, dan diprimordialkan. Yang ujung ujungnya tidak hanya masuk dan menularakannya pada masyarakat Perkotaan, tetapi lambat laun mulai menggerogoti di konteks sosiologis masyarakat Pedesaan.

Tentunya kita sebagai masyarakat dan bangsa Indonesia perlu untuk lebih kritis dan cermat didalam mengahadapi dan merespons hal diatas, Oleh karena itu disini Penulis mencoba untuk menggambarkan dan merumuskan  Bagaimana sebenarnya Pengaruh dan dampak dampak dari Masuknya Nilai nilai dan kultur Barat (Wesetrnisasi), agar nantinya kita tidak kehilangan identitas diri sebagai bangsa Indonesia , bergesernya moralitas moralitas yang seharusnya dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia, dan jangan sampai setiap Sumber daya kita khususnya di pedesaan tidak teroptimalkan yang akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam skala Nasional.

Maka, dengan demikian Disini Penulis mencoba untuk menggambarkan dan merumuskan pengaruh dan dampak dari westernisasi bagi masyarakt desa. Sehingga, dengan kita mengetahui dan memahami dari dampak dampak westernisasi terhadap masyarakat pedesaan , maka diharapkan nantinya ini bisa menjadi pelajaran dan hikmah bagi bangsa Indonesia secar umum yang tentunya perlu penyikapan dari Pemerintah, tokoh masyarakat, dan masyarakat pedesaan secara umum.

 

  1. c. Rumusan Permasalahan

Sehingga, dengan Latar Belakang dan Tujuan diatas, Rumusan Masalah yang dapat dirumuskan disini adalah sebagai berikut :

“ BagaimanakahPengaruh dari Westernisasi terhadap Masyarakat Pedesaan ? “

 

 

  1. B. Kerangka Teoritik

 

  1. a. Pengertian Westernisasi

Menurut Arief Furtonutely, menjelaskan bahwa westernisasi adalah arus besar dalam dimensi politik, sosial, kultur budaya, pengetahuan dan seni untuk mengubah karakter kehidupan bangsa-bangsa di dunia secara umum dan negara-negara Islam khususnya menjadi paham-paham Barat. Hal itu dilakukan demi tujuan menghilangkan karakter dasar mereka dan menjadikan mereka anggota keluarga yang loyal terhadap peradaban Barat. Sedangkan Eka Gunawan, dalam bukunya Modernisasi, Westernisasi, dan Sekuiarisasi, menjelaskan Konsep Westernisasi sebagai suatu proses peniruan oleh suatu masyarakat /Negara tentang kebudayaan Negara-negara barat yang dianggap lebih baikday daripada kebudayaan Negara sndiri. Ia menjelaskan bahwa antara Westernisasi, modernisasi, dan sekularisasi memiliki kesamaan yang amat signifikan antara ketiganya, yaitu :

1. Modernisasi, westernisasi dan sekularisasi sama-sama mempunyai kepentingan soal duniawi.
2. Sama-sama memiliki unsure-unsur dari dunia Barat.
3. Sama-sama merupakan hasil perbandingan dari berbagai aspek kehidupan manusia yang dirasionalkan.
4. Sama-sama merupakan suatu proses perubahan dari suatu yang dianggap kurang menjadi sesuatu yang dianggap lebih bagi penganutnya

Namun, tetap secara substansial ada beberapa perbedaan antara ketiganya, yang kemudian di jelaskan oleh Eka Gunawan sebagai berikut :

1. Modernisasi
a. Modernisasi mutlak ada dan diperlukan oleh setiap Negara
b. Tidak mengesampingkan nilai-nilai keagamaan.
2. Westernisasi
a. Mutlak pembaratan.
b. Munculnya westernisasi karena perkembangan masyarakat modern itu terjadi di dalam kebudayaan barat yang disajikan dalam bentuk barat. Sedangkan bentuk barat itu sering kali dipandang sebagai satu-satunya kemungkinan yang ada.
3. Sekularisasi
a. Berorientasi semata-mata kepada kepentingan duniawi.
b. Tidak terikat pada nilai-nilai keagamaan.

 

Didalam Proses Westernisasi, ada beberapa fakta penting dimana dimana didalam Proses pemasukan nilai nilai barat, maka itu berarti Sang actor pembawa perubahan dari barat haruslah berhasil didalam penggesearan nilai nilai masyarakat Pribumi entah itu yang berhubungan dengan budaya, kebangsaan, kesukuan, ataupun agama. Maka, didalam Proses ada beberapa fakta yang harus diketahui, yaitu :

  • Mengadopsi paham dikotomi agama dari negara (sistem sekuler) sebagaimana telah dipraktekkan di Eropa setelah kebebasannya dari cengkeraman dominasi gereja dan tokoh-tokoh agama kristen, sebagaimana diketahui penyebabnya adalah kontradiksi paham yang dianut pemuka agama kristen dengan munculnya kebangkitan pengetahuan di Eropa sedangkan Islam tidak mengenal kontradiksi antara agama dan negara. Dan tidak pernah terbayangkan dalam Islam adanya dikotomi agama dari negara.
  • Fanatis buta terhadap peradaban Barat materealistis yang merambah aspek sosial, moral dan keyakinan, bahkan taqlid buta ini melebihi taqlidnya peradaban Barat terhadap kebangkitan Eropa dalam ilmu pengetahuan. Ini mengakibatkan terhapusnya karakter sosok muslim sejati dari dalam jiwa mayoritas umat Islam. Pola hidup mereka berubah laksana potret tiruan falsafah hidup (world view) masyarakat Eropa yang materealis, mereka ambil sisi terburuk dari Eropa dan melupakan sisi baik berupa kemajuan Barat dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
  1. b. Sosiologi Pedesaan

Sosiologi Pedesaan Merupakan suatu cabang sosiologi yang
mempelajari gejala sosial di pedesaan.Sosiologi Pedesaan berkembang pada tahun 1920 di Amerika Serikat, ditandai dengan adanya bidang ilmu.tentang
problema kehidupan pedesaan. Kemudian pada tahun 1970 Smith dan Zopt melahirkan Sosiologi Pedesaan yang kemudian didefinisikan sebagai Ilmu yang mengkaji hubungan anggota masyarakat didalam dan diantara kelompok kelompok dalam lingkuangan  pedesaan. Sedangkan Rogers mendefinisikan Sosiologi Pedesaan Ilmu yang mempelajari fenomena masyarakat
dalam setting pedesaan.

Pengertian Desa

Menurut Sutardjo Kartohadikusumo, yang dimaksud dengan desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat  tinggal suatu masyarakat yang berkuasa   mengadakan pemerintahan sendiri. Sedangkan C.S Kansil menjelaskan bahwa Desa mengandung makna sebagai suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerntahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Unsur Unsur Desa

Disini kita membagi tiga komponen yang menjadi Unsur unsure desa, yaitu daerah, penduduk dan tata kehidupan:

Daerah, yaitu Tanah yang produktif, lokasi, luas dan batas
yang merupakan lingkungan geografis.

Penduduk, yaitu Jumlah penduduk, pertambahan penduduk,
pertambahan          penduduk,          persebaran         penduduk           dan mata pencaharian penduduk

Tata Kehidupan, yaitu Pola tata pergaulan dan ikatan ikatan pergaulan  warga desa termasuk seluk       beluk       kehidupan          masyarakat desa.

Ciri ciri masyarakat Desa

  1. Masyarakatnya erat        sekali     hubungannya    dengan alam

    b.         Penduduk           di            desa      merupakan         unit        sosial dan unit kerja

    c.          Masyarakat        desa      mewujudkan     paguyuban/gemainschaft

 

Fungsi Desa

-Dalam               hubungan           dengan                 kota       desa      merupakan         Heterland atau daerah dukung.

-Desa berfungsi sebagai lumbung bahan mentah
dan    tenaga  kerja.

- Merupakan desa agraris, desa industry

Keumudian Sutopo      Yuwono Salah menjelaskan bahwa salah satu peran pokok desa terletak di          bidang             ekonomi. Daerah             pedesaan            merupakan         produksi              pangan  dan produksi eksport.

Priyotamtomo  mendeskripsikan bahwa sosiologi pedesaan merupakan

suatu studi yang melukiskan hubungan manusia di dalam dan atar kelompok yang ada di

lingkungan pedesaan. Pengertian “pedesaan” mencakup wilayah yang disebut “rural”

dibedakan dengan “urban”. Secara lengkap pedesaan diartikan sebagai kawasan tempat

tinggal dan kerja yang secara jelas dapat dipisahkan dari kawasan yang lain yang disebut

“kota”.

Masyarakat pedesaan sering disebut sebagai “rural community” sedang

masyarakat perkotaan disebut sebagai “urban community”. Pembedaan tersebut didasari

oleh perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Soekanto dalam

Yulianti dan Purnomo (2003:12-13) menyatakan bahwa perbedaan masyarakat pedesaan

dan perkotaan dapat dilihat antara lain dari kehidupan kegamaan, individualime,

pembagian kerja, macam pekerjaan, jalan pikiran, jalan kehidupan, serta perubahan-

perubahan sosial lainnya.

Sosiologi pedesaan adalah sosiologi yang tentang struktur dan proses-proses

sosial yang terjadi di pedesaan. Bidang kajian ini menekankan pada masyarakat pedesaan

dan segala dinamikanya yang antara lain mencakup struktur sosial, proses sosial, mata

pencaharian, pola perilaku, serta berbagai transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi..

Menurut Planck (1993:3) Sosiologi Pertanian (Agricultural Sociology) sering

disamakan dengan Sosiologi Pedesaan (Rural Sociology). Tetapi ini hanya berlaku jika

penduduk desa terutama hidup dari pertanian saja. Semakin sedikit kehidupan penduduk

di desa ditandai oleh kegiatan pertanian, semakin pantas sosiologi pertanian dipisahkan

dari sosiologi pedesaan.

Dengan mempertimbangkan kasus-kasus di pedesaan Indonesia yang umumnya

sektor pertanian masih relatif dominan baik sebagai sektor primer maupun sekunder,

maka nampaknya dalam praktek agak sulit untuk membedakan secara tegas pokok

bahasan dan agenda kajian tentang sosiologi pedesaan dan pertanian. Tumpang tindih dan

saling terkait antara kedua pendekatan bidang sosiologi tersebut akan sangat mungkin

terjadi di pedesaan Indonesia.

Tidak hanya di pedesaan Indonesia, sebagian besar masyarakat pedesaan di

negara-negara berkembang masih memiliki ketergantungan pada sektor pertanian, bahkan

menurut Raharjo (1999:12) pertanian memang masih merupakan karakteristik pokok dari

umumnya desa-desa di dunia. Dilihat dari eksistensinya, desa merupakan fenomena yang

muncul dengan mulai dikenalnya cocok tanam di dunia ini. Dengan mengingat

pentingnya faktor pertanian bagi keberadaan desa, maka dapat dipahami bahwa

kebanyakan batasan sosiologi pedesaan masih selalu berkisar pada aspek pertanian.

Dalam pembahasan selanjutnya, bahan ajar ini menggunakan dua disiplin ilmu itu

(Sosiologi Pertanian dan Sosiologi Pedesaan) sebagai pendekatan. Pertimbangan

utamanya adalah mengingat kemajemukan masyarakat pedesaan Indonesia. Dilihat dari

tingkat perkembangannya, masih terdapat sejumlah masyarakat desa kita yang masih

terbelakang, sehingga masih tepat untuk dianalisis lewat kerangka Sosiologi Pedesaan. Di

lain pihak telah terdapat sejumlah desa yang telah maju sehingga lebih tepat untuk

dijelaskan lewat kerangka Sosiologi Pertanian

 

  1. c. Pendekatan Teori Sosiologi Pembangunan

Sosiologi pembangunan berkembang pesat sejak awal 1960-an. Sebagai bagian dari ilmu sosiologi, sosiologi pembangunan sangat dipengaruhi oleh pokok-pokok pikiran ahli sosiologi klasik seperti Marx, Weber dan Durkheim.Perkembangan sosiologi pembangunan semakin pesat seiring dengan gagalnya program pembangunan yang disponsori oleh Amerika Serikat pada negara-negara dunia ketiga. Kegagalan pembangunan dunia ketiga tersebut memicu sebuah tanda tanya besar bagi peneliti sosial untuk mengungkap faktor-faktor penyebabnya. Kelima penulis walaupun menggunakan teori yang berbeda memiliki satu kesepahaman tentang kegagalan pembangunan pada negara dunia ketiga.

Sosiologi pembangunan membawa dampak pada lahirnya dimensi-dimensi baru dalam konsep pembangunan. Menurut Webster (1984), terdapat lima dimensi yang perlu untuk diungkap, antara lain :

  1. Posisi negara miskin dalam hubungan sosial dan ekonominya dengan negara-negara lain.
  2. Ciri khas atau karakter dari suatu masyarakat yang mempengaruhi pembangunan.
  3. Hubungan antara proses budaya dan ekonomi yang mempengaruhi pembangunan.
  4. Aspek sejarah dalam proses pembangunan atau perubahan sosial yang terjadi.
  5. Penerapan berbagai teori perubahan sosial yang mempengaruhi kebijakan pembangunan nasional pada negara-negara berkembang.

Sosiologi pembangunan mencoba melengkapi kajian ekonomi yang selama ini hanya didasarkan pada produktivitas dan efisiensi dalam mengukur keberhasilan pembangunan. Pembangunan sebagai sebuah perubahan sosial yang terencana tidak bisa hanya dijelaskan secara kuantitatif dengan pendekatan ekonomi semata, terdapat aspek tersembunyi jauh pada diri masyarakat seperti persepsi, gaya hidup, motivasi dan budaya yang mempengaruhi pemahaman masyarakat dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Sosiologi pembangunan juga berusaha untuk menjelaskan berbagai dampak baik positif maupun negatif dari pembangunan terhadap sosial budaya masyarakat. Berbagai introduksi baik yang berupa teknologi dan nilai-nilai baru dalam proses pembangunan tentu akan membawa dampak pada bangunan sosial yang sudah ada sejak lama.

Sejarah perkembangan sosiologi pembangunan di Belanda diawali dengan menggunakan pendekatan sosiologi historis.Sosiologi historis menggunakan perspektif pertumbuhan dalam mengungkap permasalahan dengan teori dan konsep sosiologi.Berbagai penelitian yang menggunakan pendekatan historis pada awal perkembangannya menjadikan daerah kolonial sebagai objek kajian. Berberapa penelitian yang mengambil objek kajian di Indonesia menjelaskan tentang berbagai dampak pembangunan seperti lahirnya konsep shared proverty oleh Geertz.

Pendekatan kedua yang muncul setelah pendekatan sosiologi historis adalah ekonomi politik.Aliran ini berangkat dari keterbelakangan yang dialami oleh negara dunia ketiga.Pendekatan ekonomi politik memberikan gambaran tentang secara ekonomi antara negara maju dan negara miskin.Objek penelitian pendekatan ekonomi politik adalah negara dunia ketiga di Amerika Latin.Kelompok yang menggunakan aliran ini kemudian mengembangkan teori dependensi.Sedangkan endekatan yang ketiga adalah sosiologi modernisasi.Aliran ini kemudian berkembang menjadi teori modernisasi.

Pendekatan yang keempat adalah tradisi antropologi marxis. Pokok kajian pendekatan ini adalah cara produksi yang dominan di Amerika Latin. Perspektif cara berproduksi tidak dapat menghasilkan pemecahan pada masalah-masalah pembangunan dan kebijaksanaan pembangunan.

Pendekatan terakhir adalah sosiologi terapan.Pendekatan sosiologi terapan adalah pada kajian pembangunan secara mikro.Para ahli sosiologi terapan berusaha memberikan data praktis tingkat lokal kepada pengambil kebijakan atau pengambil kebijakan. Kelemahan pendekatan ini adalah miskin akan teori serta hasil penelitian yang didapat kurang bisa ditarik menjadi sebuah model yang general.

Penjelasan tentang dunia ketiga disampaikan oleh Webster (1984), yang mencoba mengulas tentang negara dunia ketiga yang dicirikan sebagai negara miskin yang masih terbelakang dan secara ekonomi masih bertumpu pada pertanian.Tekanan utama dalam membedakan negara-negara di dunia didasarkan pada konsep kesejahteraan yang pada akhirnya terdapat dua kutub yaitu negara kaya dan negara miskin. Tingkat kesejahteraan suatu negara yang hanya didasarkan pada GNP ternyata memiliki beberapa kelemahan antara lain GNP hanya mencerminkan akumulasi pada tingkatan suatu negara dan tidak mencerminkan distribusi sumberdaya antar penduduknya, GNP telah menghilangkan beberapa kegiatan yang memiliki potensi nilai ekonomi, GNP lebih mengutamakan pengukuran secara kuantitatif saja.

Teori pembangunan mengerucut pada dua buah teori besar, yaitu teori modernisasi dan teori dependensi.Dua teori ini saling bertolak belakang dan merupakan sebuah pertarungan paradigma hingga saat ini.Teori modernisasi merupakan hasil dari keberhasilan Amerika Serikat dalam membawa pembangunan ekonomi di negara-negara eropa.Sedangkan kegagalan pembangunan di Afrika, Amerika Latin dan Asia menjadi awal lahirnya teori dependensi.

Teori Modernisasi berasal dari dua teori dasar yaitu teori pendekatan psikologis dan teori pendekatan budaya.Teori pendekatan psikologis menekankan bahwa pembangunan ekonomi yang gagal pada negara berkembang disebabkan oleh mentalitas masyarakatnya.Menurut teori ini, keberhasilan pambangunan mensyaratkan adanya perubahan sikap mental penduduk negara berkembang.Sedangkan teori pendekatan kebudayaan lebih melihat kegagalan pembangunan pada negara berkembang disebabkan oleh ketidaksiapan tata nilai yang ada dalam masyarakatnya.Secara garis besar teori modernisasi merupakan perpaduan antara sosiologi, psikologi dan ekonomi. Teori dasar yang menjadi landasan teori modernisasi adalah ide Durkheim dan Weber

Kritik terhadap teori modernisasi lahir seiring dengan kegagalan pembangunan di negara dunia ketiga dan berkembang menjadi sebuah teori baru yaitu teori dependensi.Frank (1984) mencoba mengembangkan teori dependensi dan mengemukakan pendapat bahwa keterbelakangan pada negara dunia ketiga justru disebabkan oleh kontak dengan negara maju.Teori dependensi menjadi sebuah perlawanan terhadap teori modernisasi yang menyatakan untuk mencapai tahap kemajuan, sebuah negara berkembang harus meniru teknologi dan budaya negara maju. Frank memberikan kritiknya terhadap pendekatan-pendekatan yang menjadi rujukan teori modernisasi, antara lain pendekatan indeks tipe ideal, pendekatan difusionis dan pendekatan psikologis.

Teori dependensi bertitik tolak dari pemikiran Marx tentang kapitalisme dan konflik kelas.Marx mengungkapkan kegagalan kapitalisme dalam membawa kesejahteraan bagi masyarakat namun sebaliknya membawa kesengsaraan.Penyebab kegagalan kapitalisme adalah penguasaan akses terhadap sumberdaya dan faktor produksi menyebabkan eksploitas terhadap kaum buruh yang tidak memiliki akses. Eksploitasi ini harus dihentikan melalui proses kesadaran kelas dan perjuangan merebut akses sumberdaya dan faktor produksi untuk menuju tatanan masyarakat tanpa kelas.

Eksploitas juga dialami oleh negara dunia ketiga. Proses eksploitasi yang dilakukan oleh negara maju dapat dijelaskan dalam tiga bagian, yaitu pedagang kapitalis, kolonialisme dan neo-kolonialisme. Tahap awal yaitu masa pedagang kapitalis.Negara-negara Eropa berusaha berusaha untuk mendapatkan sumberdaya alam yang ada di negara dunia ketiga melalui kegiatan perdagangan.Perdagangan ini berkembang dan pada prakteknya merupakan suatu bentuk eksploitasi terhada sumberdaya negara dunia ketiga.Pemanfaatan tenaga kerja yang murah yaitu sistem perbudakan menjadikan para pedagang kolonial mampu meraup keuntungan yang sangat besar.Eksploitasi terus berlanjut hingga memunculkan ide adanya kolonialisme.Asumsi yang berkembang di negara kapitalis adalah peningkatan keuntungan serta kekuatan kontrol atas sumberdaya yang ada di negara miskin.Seiring berakhirnya era kolonialisme timbul sebuah era baru yang dikenal dengan neo-kolonialisme.Penjajahan yang dilakukan oleh negara maju terhadap negara dunia ketiga pada dasarnya masih tetap berlangsung dengan bermunculannya perusahaan multinasional.Negara dunia ketiga menjadi salah satu sarana penyedia tenaga kerja murah dan sumber daya alam yang melimpah, selain itu jumlah penduduk yang relatif besar menjadi potensi pasar tersendiri.Ketiga tahap inilah yang semakin memperpuruk kondisi negara dunia ketiga.

  1. d. Masyarakat Rasional Instrumental Max Weber

Max Weber (1864-1920)yang hidup di Jerman, dimana pada saat itu perkembangan industri di jerman terjadi lebih belakang dari pada di inggris dan perancis semasa hidup weber, jerman belum mengalami revolusi menyeluruh dan menentukan seperti revolusi perancis. Dan sedang mengalami masa transisi dari suatu masyarakat yg bercorak agraris ke masyarakat yg bercorak perkotaan.proses transisi jerman menuju masyarakat industri melahirkan rasionalisasi dan birokratisasi yg menurut weber meniadakan atau menumpas otonomi individu. spesialisasi job dan focus pada jobnya sendiri2, dan harus taat pada spesialisasi yang sempit tsb, proses kerja mengikuti sistim hirarki, pegawai rendahan berada dibawah pengawasan dan mendapat supervise dari yg lebih tinggi, penerimaan pegawai berdasarkan keahlian tehnis, struktur ketat, dan tata tertib kaku. spesialisasi sempit dlm birokrasi tsb menghilangkan otonomi individu, dan membuat manusia tdk lebih dari satu bagian saja dan tdk punya kehendak bebas. penyesuaian dan ketertiban thdp aturan dituntut untuk tidak memberi ruang untuk berkemauan dan berpikir sendiri, dan mempersempit ruang individu untuk mengembangkan diri.

Tekanan Weber pada konsep rasionalitas, mengidentifikasikan dua tipe tindakan rasional yang berbeda dan dua tipe tindakan yang nonrasional.Ketiga tipe otoritasnya yang terkenal yakni, Otoritas tradisional, Kharismatik, dan legal rasional. Pertumbuhan masyarakat kota modern yang bersifat industrial, dapat dilihat sebagai perubahan dari struktur otoritas tradisional ke struktur legal-rasional. Analisanya mengenai etika protestan serta pengaruhnya dalam meningkatkan pertumbuhan kapitalisme menunjukkan pengertiannya mengenai pentingnya kepercayaan agama serta nilai dalam membentuk pola motivasional individu serta tidakan ekonominya.Pengaruh agama terhadap pola perilaku individu serta bentuk-bentuk organisasi sosial juga dapat dilihat dalam analisa perbandingannya mengenai agama-agama dunia yang besar.Weber juga mengemukakan mengenai analisa tipe-ideal dimana memungkiknkan untuk mengatasi peristiwa-peristiwa khusus dan untuk memberikan analisa perbandingan dengan menggunakan kategori-kategori teoritis yang umum sifatnya.Keseluruhan pendekatannya menekankan bahwa kepentingan ideal dan materiil mengatur tindakan orang, dan ahwa hubungan antara ideal agama dan kepentingan ekonomi sebenarnya bersifat saling tergantung. Dengan kata lain, hubungannnya itu bersifat timbal-balik, termasuk saling ketergantungan anatara Protestantisme dan kapitalisme. Dalam perkembangan kapitalism emodern, menunutu untuk pertumbuhan modal.menunutut kesediaan unutk tiunduk pada disiplin perencanaan yang sistematis untuk tujuan-tujuan di masa mendatang, bekerja secara teratur dalam sustu pekerjaan, dan lain sebagainya. Titik tolak baginya adalah mengenai individu yang bertidak yang tindakan-tindakannya itu hanya dapat dimengerti menurut arti subyektifnya.Kenyataan sosial baginya pada dasrnya terdiri dari tindakan-tindakan sosial individu.Titik tolak Weber pada tingkat individual mengingatkan kita bhwa struktur sosial atau sistem budaya tidak dapat dipikirkan sebagai sesuatu yang berada secara terlepas dari individu yang terlibat di dalamnya.

substansi masyarakat menurutnya adalah individu, individulah yg riil secara obyektif. Sedangkan masyarakat adalah satu nama yang menunjuk pada sekumpulan individu2 (filsafat nominalisme)

  • jika masyarakat itu ditiadakan, pranata, struktur dll. maka individu2 itu akan tetap ada
  • bedakan dg filsafat realismenya comte dan durkheim

masyarakat dan institusi sosial merupakan hasil persetujuan kontrak antara individu2 tsb untuk mengejar kepentingan2 mereka ,dimana individu tsb menghayati keanggotaannya dan mengarahkan tindakannya sesuai dengan penghayatan mereka. Sehingga, tindakan rasional Instrumental menurut Weber adalah Perilaku yang diarahkan secara rasional kepada suatu tujuan. Selain itu, segala tindakan yang diambil untuk mencapai tujuan dan akibat-akibat yang akan timbul dengan dicapainya tujuan tersebut semuanya dipertimbangkan secara rasional, misalnya adalah perilaku ekonomi.kemudian tindakan rasional yg berorientasi nilai ia menjelaskannya sebagai  tindakan yang berorientasi pada suatu nilai: nilai agama, nilai politik (kemerdekaan), nilai estetika(mis, tindakan haji,sedekah, perang dll). Dan tindakan yang ketiga adalah tindakan afektif yaitu tindakan yg berorientasi pada perasaan atau emosi seseorang seperti cinta, ketakutan, kemarahan dsb. Dan yang terakhir menurutnya adalah tindakan tradisional : perilaku yg dibimbing oleh nilai2 tradisional yg berupa kebiasaan2 (mis : harakiri di jepang, qisosh di arab, dll). menurut Weber jenis2 tindakan tsb adalah type ideal, pada kenyataannya dilapangan tdk pernah bersifat zweckrational, wertrasional , afeksi atau tradisional melulu. Tapi mendekati salah satu type atau campuran type tersebut.

 

  1. e. Perubahan Sosial Dalam Perspektif Idealistis

Dalam hal ini Sebuah Perubahan yang terjadi dalam Masyarakat, dimana Sebuah Perubahan merupakan hal yang sudah keniscayaan yang pasti terjadi di masyarakat manapun.Perspektif Idealistis memandang bahwa ide adalah hal utama yang menyebabkan terjadinya perubahan.Ide nantinya akan mempengaruhi terbentuknya teknologi dan lainnya.

perspektif idealis melihat bahwa perubahan sosial disebabkan oleh faktor non material. Faktor non material ini antara lain ide, nilai dan ideologi. Ide merujuk pada pengetahuan dan kepercayaan, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu yang pantas atau tidak pantas, sedangkan ideologi berarti serangkaian kepercayaan dan nilai yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi bentuk tindakan masyarakat.

 

Salah satu pemikir dalam kubu idealis adalah Weber.Weber memiliki pendapat yang berbeda dengan Marx.Perkembangan industrial kapitalis tidak dapat dipahami hanya dengan membahas faktor penyebab yang bersifat material dan teknik.Namun demikian Weber juga tidak menyangkal pengaruh kedua faktor tersebut.Pemikiran Weber yang dapat berpengaruh pada teori perubahan sosial adalah dari bentuk rasionalisme yang dimiliki. Dalam kehidupan masyarakat barat model rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupan. Menurut Webar, rasionalitas memiliki empat macam model, yaitu :

  1. Rasionalitas tradisional.
  2. Rasionalitas yang berorientasi nilai.
  3. Rasionalitas afektif.
  4. Rasionalitas instrumental.

Weber melihat bahwa pada wilayah Eropa yang mempunyai perkembangan industrial kapital pesat adalah wilayah yang mempunyai penganut protestan. Bagi Weber, ini bukan suatu kebetulan semata. Nilai-nilai protestan menghasilkan etik budaya yang menunjang perkembangan industrial kapitalis.Protestan Calvinis merupakan dasar pemikiran etika protestan yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, hidup hemat dan menabung. Pada kondisi material yang hampir sama, industrial kapital ternyata tidak berkembang di wilayah dengan mayoritas Katholik, yang tentu saja tidak mempunyai etika protestan.

 

Tokoh lain adalah Lewy yang memperjelas pendapat Weber tentang peranan agama dalam perubahan sosial. Lewy mengambil contoh sejarah yang menggambarkan bahwa nilai-nilai agama mempengaruhi arah perubahan.Dia menyebutkan adanya pemberontakan Puritan di Inggris, kebangkitan kembali Islam di Sudan, pemberontakan taiping dan boxer di China.Seperti halnya Weber, Lewy tidak menyangkal bahwa kondisi material mempengaruhi perubahan sosial.Namun demikian kita tidak dapat hanya memahami perubahan sosial yang terjadi hanya dari faktor material saja.

 

Ideologi mampu menyebabkan perubahan paling tidak melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :

  1. Ideologi dapat melegitimasi keinginan untuk melakukan perubahan.
  2. Ideologi mampu menjadi dasar solidaritas sosial yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan.
  3. Ideologi dapat menyebabkan perubahan melalui menyoroti perbedaan dan permasalahan yang ada pada masyarakat.

Konsep perubahan sosial dapat muncul dari dua kubu yang berbeda, yaitu kubu materialis yang dipelopori oleh Marx dan kubu idealis yang dipelopori oleh Weber.Pemikiran Weber pada awalnya setuju dengan ide dasar pemikiran Marx, namun dia tidak sependapat untuk menempatkan manusia sebagai robot.Pada masyarakat modern, Marx dan Weber memiliki kesamaan pandangan, bahwa masyarakat modern telah diikat dengan spirit kapitalisme.

 

 

 

 

 

  1. C. Terbentuknya Westernisasi dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Pedesaan

 

  1. a. Terbentuknya Westernisasi

Sebagaimana dijelaskan oleh Fortunately, bahwa Westernisasi pada umumnya adalah gerakan gerakan yang berorentasi pada pengaruh pengaruh Nilai nilai serta budaya barat yang ditujukan kepada Negara Negara dunia, utamanya adalah Negara Islam. Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia adalah Negara Islam terbesar dunia, dimana tentunya Islam adalah salah satu objek Negara yang dimaksud.Dengan Penduduknya Yang cukup besar, serta dengan Nilai nilai Ketimuran dan Nilai nilai Kegamaan yang utamanya adalah Islam maka sebenarnya Indonesia adalah objek yang sangat Prospektus dan Utama sebagai target pengembangan westernisasi oleh Negara Negara Barat. Dan Apabila kita berkaca lebih dalam, maka semenjak sebelum kemerdekaan Indonesia hingga kemerdekaan Negara ini yang dipimpin oleh rezim orde lama dan orde baru, maka Indonesia cukup dipandang sebagai Negara yang cukup kental dengan Nilai nilai dan budaya nya sebagai identitas Negara Ketimuran dan Negara Dengan warna Keislaman yang cukup kuat. Sebagai Indikasinya kita dapat melihatnya selain jumlah penduduk Islamnya terbesar adalah berkembangnya berbagai kelompok kelompok Islam , partai partai Islam serta penduduknya yang secara nilai Ritulaitas Islamnya cukup tinggi. Kita bisa menyaksikan masyarakat Indonesia dengan ritual ritual islam semisal sholat, mengaji, puasa sudah menjadi opini kuat dam budaya bersama dan keyakinan yang sifatnya mutlak di mayoritas penduduk. Apalagi jika menyaksikan di pedesaan, budaya dan ajaran Islam menyatu dengan budaya da n kultur masyarakat setempat yang sifatnya kedaerahan. Misalnya saja, kita melihat pada masyarakat di pulau jawa, jawa yang notabene masa lalunya sebagai tanah berkembangnya kerajaan hindu dan budha, sehingga secara kekentalan kulturnya pun cukup melekat seperti zaman kerjaan, yang lebih dikenal dengan sebutan Kultur Kekeratonan, dimana dikenal dengan santun, ramah, menghormati orang tua, tutur kata yang lembut. Selain dalam hal kultrual, system system keagmaan pun cukup berkembang, dimana Islam yang lebih dikenal dengan Islam Kejaweaan, Islam yang sudah bercampur dengan Kultural jawa yang masih masih kental dengan peninggalan kerajaan hindu disana. Sehingga, cukup banyak produk Kultur kultur dan agama yang dihasilkan oleh masyarakat ini teruatama mereka yang masih di pedesaan, Misalkan saja nilai nilai kebudayaan jawa seperti Nerimo (semacam Fatalis), sungkem, harmonisasi dengan alam, toto kromo, dan sebagainya. Selain itu juga adalah Produk produk ritual agama islam khususnya seperti Tahlilan, Ngitung dino,primbon, dan masih banyak lagi.  Selain itu, Dalam hal pengelolaan sumber daya alam oleh mereka juga tentunya sangat kental dengan nilai nilai serta kultur yang sangat erat dengan kebersamaan dan harmonisasi yang merupakan kultur asli masyarakat dimana masih sangat original yang bertahun tahu sudah menjadi identitas diri masyarakat pedesaan. Misalkan saja dalam hal pengelolaan pertanian, maka yang disebut dengan gotong royong masih sangat kental, dalam hal membangun rumah dan hajatan, maka sudah menjadi hal yang lumrah apabila seluruh tetangga dan masyarakat kampong iktu mebantu dan berpartisipasi.Selain itu, dalam hal panen hasil pertanian, rasa kebersamaan diantara seluruh masyarakat desa pun masih sangat kuat, sehingga hasil pertanian ataupun perkebunan biasanya dibagi bagikan kepada beberapa atau seluruh masyarakt di desanya, sehingga tidak hanya dikonsumsi sendiri. Dan begitu pula jika kita melihat masyarakat yang ada di luar pulau jawa , mulai dari Sumatera, Kaimantan, Sulawesi dan Papua, yang tentunya memiliki hasil pertanian dan perkebunan masing masing sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki oleh daerah daerah masing masing. Hal ini menunjukkan budaya dan nilai nilai egalitarian masih sangat berkembang hal ini tentunya masih sangat kuat dan terjadi pada saat konteks dimana Negara kita masih merasakan kuatnya nilai nilai dan budaya ketimuran dimana masih belum banyak terjadi akulturasi di Negara kita.

Namun, sebagaimana Kita melihat perkembangan yang ada pada masyarakat modern saat ini seiring banyaknya pengetahuan dan pemikiran kontemporer, banyak dinamika perkembangan yang terjadi sehingga telah banyak terjadi perubahan perubahan pada masyarakat Indonesia yang pada awalnya memegang teguh nilai nilai ketimuran , namun pada perkembangannya banyaknya pergeseran pergesan nilai yang cenderung menorah pada kultur kultur barat.

Ada beberapa hal yang menjadi factor perubahan perubahan yang terjadi di masyarakat kita yang bertransformasi memegang kultur dan nilai nilai yang mengarah pada barat, diantaranya adalah:

a.1 Pembangunan Infrastruktur dan ekonomi

Sebagaimana di jelaskan oleh Webster (1984), bahwa Sudah menjadi keharusan oleh Negara Negara dunia ketiga, dimana mereka adalah Negara negara berkembang atau bahkan Negara miskin untuk mereka melakukan Pembangunan di Negaranya. Dan untuk melakukan itu semua  tentunya tidak terlepas dari factor factor ekonomi dimana Pembangunan haruslah dilakukan dengan pendekatan pendekatan ekonomi, yang kesemuanya mengacu pada Negara Negara maju  , yaitu Negara barat seperti Amerika Serikat, atau Negara Negara Eropa semacam Inggris, Perancis, dan Jerman. Yang kemudian Oleh Pemerintah yang sebagai Agen Perubahan dengan menerima Bantuan luar Negeri dari Negara seperti Amerika Serikat, baik Melalui IMF ataupun World Bank, Indonesia pun membangun Infrstruktur Negaranya yang terfokus di kota kota BEsar. Kemudian melalui Pendekatan Sosiologi Pembangunan, Webster menjelaskan bahwa Seluruh MEkanisme Pembangunan dalam bidang ekonomi sangat erat kaitannya dengan Modernisasi,  dimana pada akhirnya akan mengerucut pada tindakan eksploitasi. Proses eksploitasi yang dilakukan oleh negara maju dapat dijelaskan dalam tiga bagian, yaitu pedagang kapitalis, kolonialisme dan neo-kolonialisme. Selain itu, juga berdampak pada berbagai mavam Perdagangan yang kita tentunya menjalin hubungan perdagangan dengan Negara Negara Amerika serikat dan Negara Negara Eropa. Dengan Kegiatan Import dan Eksport, berarti Masyarakat dengan sangat mudah mengkonsumsi baranga baranag luar dan berbau kebarat baratan.Sehingga dengan Meningkatnya Berbagai macam Infrastruktur dan perkembangan ekonomi yang diukur dengan meningkatnya GNP Negara, maka Hal ini pula Yang pada akhirnya membawa perubahan pada cara berfikir, perspektif, budaya, dan Psikologis masyarakat. Hal ini diperkuat oleh Webster, bahwa Pembangunan tidak hanya kuantitatif dengan pendekatan ekonomi semata, terdapat aspek tersembunyi jauh pada diri masyarakat seperti persepsi, gaya hidup, motivasi dan budaya yang mempengaruhi pemahaman masyarakat.

Menurut Pandangan Penulis, Dengan berbagai macam Pembangunan Infrstruktur , berarti memberikan Fasilitas yang mendukung kegiatan Ekonomi. Dengan Infrastruktur yang didukung dengan berbagai macam teknologi, maka hal itu akan merubah cara berfikir masyarakat yang lebih menuntut kefektifatan dan percepatan, secara psikologis masyarakat lebih menykukai hal hal yang lebih mudah namun memberikan hasil optimal. Dan pada Intinya disini adalah MAsyarakat akan lebih menuntut pada bagimana peningkatan Ekonomi demi sebuah pembangunan, maka perspektif ekonomi Politikpun disini merasa perlu dilakukan utamanya adalah oleh Pemerintah. Maka dengan Perubahan perubahan pada system Ekonomi inilah, yang pada akhirnya Dengan sangat mudah Produk Produk Barat masuk ke Negara Negara berkembang termasuk Negara kita Indonesia. Dan sebagaimana Dijelaskan diatas, bahwa Pembangunan disini tidak hanya dalam perspektif Kauntitatif ekonomi semata, tetapi juga teradapa hal hal yang tidak kasat mata yaitu nilai nilai , budaya, dan Psikologis yang semuanya itu bdari barat. Tentu kita sudah bisa membayangkan apabila Kultur kultur barat itu masuk ke Masyarakat kita.Maka akan merubah perilaku, moralitas, dan budaya pada masyarakat kita.Selainitu, masyarakat multikultural Indonesia akan  semakin lupa akan nilai luhur, budaya, norma, adat istiadat yang sejujurnya merupakan warisan kepribadian bangsa Indonesia asli berasal dari nenek moyang kita terdahulu. Dan apabila warisan kepribadian bangsa tersebut dilestarikan maka sesungguhnya akan memberikan suatu nilai lebih bagi kehidupan bangsa Indonesia dibandingkan dengan negara lain, karena setiap bangsa memiliki kepribadian bangsa yang berbeda-beda. Sekarang ini begitu banyak generasi bangsa Indonesia yang bersikap “kebarat-baratan”, kini jati diri bangsa hanya tampak pada sebagian kecil kelompok masyarakat. Generasi kita terlalu bangga dengan kebiasaan dan adat orang-orang Barat, sementara dengan adat sendiri malu apabila menunjukkan adat tersebut di depan umum. Hal ini diperparah dengan minimnya perhatian pemerintah serta tersebar luasnya budaya Barat melalui media-media baik cetak maupun elektronik yang menonjolkan budaya-budaya Barat.
Sebagai contoh warga Indonesia sendiri banyak yang menyalah gunakan produk industri, misalnya thank top yang diluar negeri digunakan pada musim panas, akan tetapi di Indonesia malah digunakan untuk bergaya di depan umum. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia latah terhadap perubahan. Mereka menganggap pakaian produksi negara Barat tersebut sesuai dengan budaya Timur yang dianut oleh bangsa kita Indonesia. Selain itu masalah norma berperilaku dalam kehidupan masyarakat, kita tahu bahwa orang Jawa terkenal dengan “unggah-ungguhnya” apabila bertemu dengan orang lain, namun di era modernisasi ini orang-orang semakin jarang melakukannya banyak diantara mereka yang justru cuek bebek dan selalu menunjukkan bahwa seolah-olah orang itu hidup sendirian (individualis), padahal kita tahu sikap dan gaya individualis adalah gaya orang-orang Barat, dan tidak sesuai dengan budaya Timur negara kita.

 

a.2 Perkembangan Pemikiran Masyarakat.

 

Sebagimana dijelaskan oleh Max Weber, pada bagaimana ia coba memproyeksikan Perkembangan akhir masyarakat yang mengarah pada kerasionalan, dimana masyarakat akan berubah mengarah pada masyarakat yang berfikir logis dan mengarah pada tujuannya. Masyarakat akan cenderung meninggalkan cara berfkirnya yang tradisional, yang tidak jelas mengarah sperti apa. Maka, dengan kemampuan berfikir masyarakat yang masing masing individunya bisa berfikir dengan rasional, maka ia akan bisa mandiri, mengembangkan potensinya dan mendapatkan keberhasilan kerjanya dengan upaya upaya nya secara individual, maka dengan demikian Individu pun bisa melampaui kelompok. Yang itu artinya adalah Setiap individu dalam masyarakat tidak lagi tergantung kepada kelompok atau orang lain dalam masyarakat. Karena dengan kemampuan rasionalitasnya maka seseorang dapat memcahkan permasalahan sendiri, bahkan bisa memberikan pengaruh pada keloompok masyarakat lainnya. Maka, hal inilah yang akan memberikan dampak berkurangnya atau hilangnya nilai nilai dan kultur masyarakat kita yang amat kental dengan kerjasama, egalitarian, gotong royong, dan budaya budaya ketimuran yang justru kontras dengan budaya budaya barat yang tercermin pada cita cita masyarakat yang dirumuskan oleh Max Weber, yaitu masyarakat rasional yang akan menghasilkan masyarakat yang Individualis, bebas, dan tidak tergantung dengan orang lain. Selain itu tentunya juga akanberdampak pada berkembangnya budaya budaya yang itu justru akan memberikan peluang bagi berkembangnya budaya barat.Misalnya saja Kompetisi sebebas bebasnya, ekspressi sebebas bebasnya, dan penggunaan teknologi tiada batas, sehingga tidak ada aturan aturan atau norma norma yang mampu membatasinya. Maka , dengan demikian Westenisasi tentu akan dengan amat mudah berkembang.

 

a.3 Perubahan Sosial Masyarakat melalui Ideologisasi

 

Kalau sebelumnya kita melihat arah westernisasi dengan perpektif materialistis , maka disini kita akan melihat arah perubahan yang mengarah pada westernisasi dengan perspektif Nilai dan Ideologi. Sehingga, Bagimana Dijelaskan oleh Weber yang tidak sepakatdengan pemikiran Marx yang mengtakan bahwa Perubahan terjadi tidak hanya karena kaum Kapitalis yang berorentasi pada hal hal material dan teknik, tetapi juga karena factor nilai, hal ini dilihat oleh Weber dengan fakta oleh kaum kaum protestan di eropa pada wkatu itu. Maka begitu pula dengan kasus kasus Westernisasi yang terjadi di Negara Negara berkembang termasuk Indonesia.Proses Ideologisasi yang dilakukan oelh barat caranya bermacam macam.Namun, pada prinsipnya Nilai nilai barat dimasukkan dengan orentasi pada Pelegitimasian terhadap perilaku dan keinginan keinginan untuk mencapai keberhasilan dan kebutuhan tanpa memperhatikan norma, atau bisa jadi nilai nilai barat yang cenderung bebas dilegitimasi sebagai sesuatui yang benar. Tentu nilai nilai ini dimasukkan tanpa disadari langsung oleh masyarakat Indonesia, karena cara yang dilakukan sangatlah halus. Mulai dari pendidikan, memproduk agen agen perubahan yang membawa misi westernisasi di Indonesia, atau melalui media media dan teknologi seperti hiburan film, internet, dan lainnya.Atau yang lebih efektif lainnya adalah dengan membangun komunitas dan kelompok kelompok social di Negara Negara berkembang seperti di Indoensia.

 

  1. b. Masuknya Westernisasi di Masyarakat Desa

Secara Umum Masyarakat Desa yang sangat kental dengan warna warnanya yang sangat kental dengan lingkungan alam, bidang kerja samanya yang membentuk Paguyuban. Namun sebagaimana dijeaskan Oleh Planck , Sosiologi Pedesaan Sangat erat kaitannya dengan Sosiologi Agrikultur, yang itu berarti bahwa Masyarakat Pedesaan yang memiliki kontur alamnya yang amat potensial sebagai tipe daerah Agraris dimana sangat potensial untuk Industri Pertanian. Hal ini berarti menyimpulkan bahwa Sebenarnya Masyarkat Pedesaan tidak selalu identik dengan masyaraat Tradisional yang senantiasa hidup terbelakang dan gagap secara teknologi dan perkembangan. Planck menjelaskan bahwa Masyarakat Pedesan Selalu identik dengan masyarakat Pertanian karena apabila kita melihat desa desa yang ada pada Konteks Indonesia , maka masyarakatnya mayoritas mengandalkan Pertanian mereka sebagai lahan pekerjaan mereka dan lahan untuk mencapai kebutuhan dan kesejahteraan hidup. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Penulis sebelumnya, bahwa Pedesaan dengan lahan pertaniannya memiliki fungsi dan kedudukan yang amat penting dan vital dalam ranah Kenegaraan Indonesia. Dimana Pedesaan dlah sumber penghidupan semua masyarakat Negara yang memenuhi kebutuhan Konsumsi Pokok, sehingga dapat disimpulkan bahwa Pedesaan sebagai Wilayah Agraris mati perumbuhannya sehingga tidak adapat memproduksi sumber pangan secara berkesinambungan, maka Dapat mengancam Negara dan Masyarakat secara massif, dimana Negara akan terancam Krisis dalam bidang pangan, yang dapat mengancam Stablitas Negara. Atas dasar Permasalahan semacam itulah, maka Semenjak Zaman Orde baru hingga saat ini Pemerintah juga tidak hanya memusatkan perhatian dan Pembangunannya hanya di perkotaan tetapi juga mulai memasuki wialayah Pedesaan. Kesejahteraan para petani petani dan Penduduk desa harus mendapat perhatian, dimana kesejahteraan masyarakat desa haruslah terjamin dan Kondisi perekonomian di desa juga harus stabil, karena jika tidak maka akan berdampak pada produktivitas pertanian dan berbagai macam komoditi perkebunan yang semuanya bergantung dari Pedesaan pedesaan di seluruh indonesia.

Maka, berbagai macam keiijakan , program dan tindakan tindakan oleh Pemerintah pun mulai mengarahkan perubahan terhadap wilayah Pedesaan. Mulai dari Pembangunan berbagai macam Infrastruktur desa, memasukkan berbagai macam jaringan jaringan telekomunikasi seperti TV, jarungan telepon, ponsel, hingga internet.Pada awalnya mungkin Pemerintah hanya memfokuskan pada bidang bidang Infrstruktur yang mengorentasikan pada Produktifitas hasil pertanian dengan memberikan modal pengelolaan sawah dan perkebunan, fasilitas pupuk murah, bajak dan traktor dan selainnya. Namun demi kemajuan dan Kecerdasan Masyarakat, maka Pemerinta dan para tokoh tokoh masyarakat tetap melakukan sifat keterbukaan terhadap investasi investasi dari luar dengan membuka atas masuknya Teknologi dan sisitem sistem Infromasi dari luar.Maka dari itu, hal ini tentu akan merubah cara pandang dan pola pikir masyarakat desa dalam mengelola pertanian, mendistribusi hasil panen, melakukan perdagangan hasil pertanian, dan berinteraksi dengan masyarakat lain dalam hal kerja sama pertanian dan sebagainya.

Sebagimana dijelaskan oleh Max Weber bahwa masyarakat cenderung akan berfikir pada tujuan tertentu dan mengarah pada berfikir rasional, maka Penulis pun juga berpendapat akan hal yang sama, bahwa Masyarakat senantiasa berbubah cra berfikirnya, sehingga perubahan caradan pola berfikir yang mengarah pada kerasionalan dan meninggalkan ketradisionalan merupakan sebuah keniscayaan. Dengan banyaknya informasi dan perkembangan serta kemajuan global baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, gaya hidup, budaya, seni, dan selainnya, maka tentunya masayarakat desa pun akan bergerka manuju tujuan tertentu yang mengarah pada kemajuan kemajuan budaya, nilai, dan gaya hidup tertentu baik dalam hal ekonomi, pendidiikan dan selainnya. Namun , pertanyaannya adalah Negara manakah yang dipandang maju dan menjadi panduan panduang bangsa bangsa lain untuk saat ini ? tentunya adalah Negara Negara barat, lebih spesifiknya lagi adalah Amerika serikat. Sehingga, kini poal pikir masyarkat desa tertuju pada pencapaian kultur kultur , nilai nilai, gaya hidup, bahkan produk prdouk seperti barat.Dan yang lebih ironisnya lagi adalah para agen agen perubahan bagi barat sebenrnya bukanlah mereka yang orang orang berasal dari bangsa barat melainkan mereka hanya menggunakan media informasi dan teknologi, tetapi agen perubahannya bisa jadi para penduduk desa sendiri yang sudah berubah pola berfikirnya. Sehingga , disini dapat terbukti apa yang diprediksikan oleh Weber, Individu yang bersifat rasional bisa mempengaruhi kelompok keolompok sosial dengan dirinya sebagai agen perubahan yang membawa perubahan pada masyarakat desanya.

Sehingga apabila kita simpulkan disini, ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya Westernisasi di masyarakat Pedesaan diantaranya adalah :

  • Pembangunan Yang dilakukan di wilayah Pedesaan , baik dalam bidang Ekonomi, Infrastruktur Pertanian, Pemdidikan, dan  badan badan pengembangan lainnya untuk mendukung produktivitas pertanianny
  • Pengembangan berbagai macam Teknologi dan system system informasi di pedesaan.
  • Sehingga, hal diatas berkonsekuensi pada perubahan pola pikir masyarakat desa yang cenderung mengarah pada kemajuan.
  • Perubahan Pemikiran masyarakat desa yang cenderung mengarah pada kemajuan, logis dan tujuan tertentu (rasional instrumental)
  • Berbagai macam teknologi, infromasi, dan produk produk barat yang tentunya membawa muatan, nilai nilai, dan udaya barat yang dengan amat mudah memberikan pengaruh pada masyarakat desa hanya dengan media informasi
  • Secara refkleks, Individu individu yang terpengaruh nilai dan kultur barat akan memberikan pengaruh pada kelompok kelompok Sosial lainnya di masyarakat desa.

 

 

  1. c. Pengaruh Westernisasi di masyarakat Desa

 

Ketika berbagai macam nilai nilai, kultur, dan berbagai pola hidup dan produk produk budaya barat lainnya memasuki ranah masyarakta pedesaan. Maka hal itu sebenarnya berarti Masyarat Desa kita telah mencoba untuk menggerogoti nilai nilai dan kultur bangsa sendiri dimana juga akan berdampak sistemik pada fungsi dan keudukan pedesaan sebagai wilayah agraris yang menjadi sumber pangan dan komoditi lain yang memperkuat perekonomian bangsa dan Negara. Disini Penulis mencoba untuk mngkonstruksikan bagaimana pengaruh penngaruh sistemik tersebut dapat terjadi. Dengan Westernisasi yang terjadi, maka hal itu berarti telah terjadi Proses Akulturasi dimana nilai, kultur kultur, dan Pola pola hidup Pedesaan yang amat kental dengan Kerja sama sosial, Sopan santun, semangat gotong royong, harmonisasi dengan alam, semuanya kan berubah dan bertransformasi menjadi kultur, nilai nilai dan poa hidup kebarat baratan yang amat kental dengan Individualis, bebas, kompetisi,  dan lebih mementingkan pertumbuhan modal dibandingkan dengan kepedulian terhadap alam. Selin itu, dalam hal gaya hdup tentunya juga akan berpengaruh, masyarakat desa yang dulunya kental dengan pola hidup sederhana, tradisional, seadanya, santun, bisa jadi bertransformasi menjadi gaya hidup yang modern, praktis, tidak mengiraukann norma norma. Dan hal ini bisa tercermin dalam berbagai pola hidup, misalnya dalam hal berusana, memilih makanan, memilih pendidikan, pola hidup keseharian, dan lain sebagainya. Maka, hal itu berarti seluruh nilai nilai,kultur, dan produk produk pedesaan yang sangat erat kaitannya dengan budaya asli bangsa indonesia yang merupakan identitas bangsa Negeri sendiri sangat rawan untuk ditinggalkan atau mungkin akan menghilangan atau punah oleh perkembangan zaman di era Globalisasi ini.

Selain itu, dalam bidang ekonomi , karena secara Instrumental Masyarakat desa menjadikan Dunia barat sebagai kiblatnya. Maka tentunya untuk mewujudkan jati dirinya sebagi individu yang mencintai keudayaan barat, mak tentunya dalam segi konsumsi lebih mencintai dan menggunakan Produ Produk barat. Maka, apabila hal ini terjadi secara massif, maka akan mengancam Produk Produk Desa dalam bidang Pertanian dan Perkebunan. Dengan Tidak adanya kecintaan dan kebanggaan terhadap Produk produk hasil pertanian dan perkebunan dari bangsa sendiri, maka hal ini akan berdampak pada tidak adanya keinginan dan semangat Masyarakat Pedesaan untuk mengembangkan tanah dan lahannya sebagai Bangsa Agararis. Maka dari itu, tidak akan pernah ada masyarakat desa yang hendak lagi menjadi Petani dan membuka lahan perkebunan, karena pekerjaan sebagai Petani dan Pekebun sudah dipandang sebelah mata , sebagai pekerjaan yang rendah derajatnya apabila dibandingkan sebagai Pengusaha, pebisnis, karyawan, Pengawai Negeri, atau bahkan seorang Pelaut. Hal in telah terbukti dengan tingginya Tingkat Urbanisasi di Indonesia dari tahun ke tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut Penulis tampilkan data berkenaan dengan kenaikan tingkat Urbanisasi dari tahun ke tahun beserta Proyeksiny hingga tahun 2025 di Indonesia :

Propinsi 2000 2005 2010 2015 2020 2025
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
01. NANGGROE ACEH DARUSSALAM 23.6 28.8 34.3 39.7 44.9 49.9
022. SUMATERA UTARA 42.4 46.1 50.1 54.4 58.8 63.5
03. SUMATERA BARAT 29.0 34.3 39.8 45.3 50.6 55.6
04. RIAU 43.7 50.4 56.6 62.1 66.9 71.1
05. JAMBI 28.3 32.4 36.5 40.6 44.5 48.4
06. SUMATERA SELATAN 34.4 38.7 42.9 47.0 50.9 54.6
07. BENGKULU 29.4 35.2 41.0 46.5 51.7 56.5
08. LAMPUNG 21.0 27.0 33.3 39.8 46.2 52.2
09. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 43.0 47.8 52.2 56.5 60.3 63.9
10. DKI JAKARTA 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
11. JAWA BARAT 50.3 58.8 66.2 72.4 77.4 81.4
12. JAWA TENGAH 40.4 48.6 56.2 63.1 68.9 73.8
13. D I YOGYAKARTA 57.6 64.3 70.2 75.2 79.3 82.8
14. JAWA TIMUR 40.9 48.9 56.5 63.1 68.9 73.7
15. BANTEN 52.2 60.2 67.2 73.0 77.7 81.5
16. B A L I 49.7 57.7 64.7 70.7 75.6 79.6
17. NUSA TENGGARA BARAT 34.8 41.9 48.8 55.2 61.0 66.0
18. NUSA TENGGARA TIMUR 15.4 18.0 20.7 23.5 26.4 29.3
19. KALIMANTAN BARAT 24.9 27.8 31.1 34.8 39.0 43.7
20. KALIMANTAN TENGAH 27.5 34.0 40.7 47.2 53.3 58.8
21. KALIMANTAN SELATAN 36.2 41.5 46.7 51.6 56.3 60.6
22. KALIMANTAN TIMUR 57.7 62.2 66.2 69.9 73.1 75.9
23. SULAWESI UTARA 36.6 43.4 49.8 55.7 61.1 65.7
24. SULAWESI TENGAH 19.3 21.0 22.9 24.9 27.3 29.9
25. SULAWESI SELATAN 29.4 32.2 35.3 38.8 42.6 46.7
26. SULAWESI TENGGARA 20.8 23.0 25.6 28.5 31.8 35.5
27. GORONTALO 25.4 31.3 37.0 42.8 48.2 53.2
28. M A L U K U 25.3 26.1 26.9 27.9 28.8 29.9
29. MALUKU UTARA 28.9 29.7 30.6 31.5 32.5 33.6
30. PAPUA

Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS)

 

Berdasarkan diatas, dapat kita menyimpulkan bahwa tingkat Animo masyarakat desa untuk pindah ke kota melakukan Urbanisasi sangat tinggi dari tahun ke tahunnya, padahal lahan dan tanah di pedesaan masih sangat luas untuk dikembangkan dan dikelola untuk lahan pertanian. Namun, mereka kecenderungan lebih tergoda dengan gemerlapnya kota karena pengaruh nilai dan budaya Barat yang dipandang lebih menjamin dan menawarkan keindahan dan iming iming kesuksesan lebih besar. Maka dari itu, Pedesaan yang dengan lahan dan potensi pertaniannya cenderung terabaikan,

Padahal, sebagimana kita tahu bahwa di Pedesaanlah dimana potensi potensi lahan yang dapat di kembangkan dengan berbagai tanaman, karena sudah bukan rahasia lagi bahwa Indonesia sebagai Negara Agraria menyimpan berbagai tanaman dengan berbagai jenis yang dapat menghasilkan berbagai komditi perkebunan.

Berikut Penulis tampilkan data yang menggambarkan tingkat produksi perkebunan di Indonesia dengan berbagai macam jenis tanaman :

 

Tahun Karet Kering Minyak Sawit Biji Sawit Coklat Kopi Teh Kulit Kina Gula Tebu 1) Tembakau 1)
1995 341000 2476400 605300 46400 20800 111082 300 2104700 9900
1996 334600 2569500 626600 46800 26500 132000 400 2160100 7100
1997 330500 4165685 838708 65889 30612 121000 500 2187243 7800
1998 332570 4585846 917169 60925 28530 132682 400 1928744 7700
1999 293663 4907779 981556 58914 27493 126442 917 1801403 5797
2000 375819 5094855 1018971 57725 28265 123120 792 1780130 6312
2001 397720 5598440 1117759 57860 27045 126708 728 1824575 5465
2002 403712 6195605 1209723 48245 26740 120421 635 1901326 5340
2003 396104 6923510 1529249 56632 29437 127523 784 1991606 5228
2004 403800 8479262 1861965 54921 29159 125514 740 2051642 2679
2005 432221 10119061 2139652 55127 24809 128154 825 2241742 4003
2006 554634 10961756 2363147 67200 28900 115436 800 2307000 4200
2007 578486 11437986 2593198 68600 24100 116501 500 2623800 3100
2008* 613487 11623822 2646577 71300 25600 114861 500 2800900 3200

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia

 

Dari data diatas dapat kita melihat bahwa Indonesia memiliki kekayaan tanaman dalam komoditi perkebunan dimana Apabila ini dioptimalkan dengan semaksimal mungkin, maka tentu akan mendatangkan kemakmuran luar biasa bagi masyarakat desa apabila SDM yang mengelolanya memadai. Namun karena SDM SDM yang ada cenderung beralih untuk mkenekuni bidang selannya diluar bidang agararia, maka tentunya diprediksikan akan menurun drastic dalam hal Produksinya, dan dengan berkembangnya westernisasi dimana membanjirnya Produk produk luar maka Petani pun akan semakin terpuruk karena permintaan komditi kebun dalam Tani akan menurun karena beralih ke Produk luar.

bahkan permintaan dari masyarakat pun cenderung menurun seperti komoditi buah dan sayur untuk saat ini. Para Pelaku bisnis tidak sedikit yang mengimpor buah buhaan dari luar Negeri seperti China dan amerika, bahkan Pemerintah pun sempat Mengimpor Beras dari Thailand dan Vietnam. Hal ini karena disebabkan oleh lesunya usaha agrobisnis dan Pertanian dalam Negeri.Hal ini jelas yang menjadi sebab adalah karena factor SDM SDM yang kurang karena penurunan jumlah setiap tahunnya , dan juga menurunnya Semangat dan motivasi dari Petani kita karena secara hasil sangat tidak signifikan bagi mereka karena lesunya permintaan dari masyarakat terhadap hasil produk tani dan perkebunan mereka karena membanjirnya produk agrobisnis dari luar Negeri yang berlimpahan karena juga factor permintaan masyarakat kita yang lebih menyukai produk barat. Maka, apabila hal ini dibiarkan terus menerus maka dampak yang ditimbulkan akan lebih besar lagi. Dimana bukan tidak mungkin Pertanian dan Perkebunan Di Indoensia akan mati, yang akan berdampak pada Krisis pangan di seluruh Negeri, dan itu akan mengakibatkan Indoensia akan terus menerus bergantung terhadap Negara lain, Dan Identittas Indonesia sebagai Negara Agraris akan lenyap dari Peradaban.

 

 

  1. D. Kesimpulan

Setelah Melalui Proses Analisis pada bab sebelumnya, maka disini Penulis mencoba untuk mengkonstruk kembali beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil berkenaan dengan Kasus kasus westernisasi yang terjadi dan ternyata dapat memberikan pengaruh dan dampak yang sangat besar dan signifikan mempengaruhi baik dari segi kebudayaan, norma, dan perekonomian. Secara gambaran sudah dijelaskan bahwa nantinya akan banyak terjadi pergeseran pergeseran karena Proses Proses perubahan nilai nilai menuju nilai nilai dan budaya barat seolah olah sesuatu yang mutlak dan pasti terjadi bagi Negara Negara berkembang, hingga tataran masyarakat Pedesaan. Beberapa Poin yang dapat disimpulkan dari seluruh rangkaian pembahsan diatas apabila kita simpulkan adalah sebagai berikut :

  • Fenomena Westernisasi Terjadi sebagai suatu dampak  dan implikasi logis dari sebuah Pembangunan baik dalam hal Infrstruktur , system perekonomian, teknologi dan infromasi yang tidak hanya pada masyarakat perkotaan tetapi juga hingga menyentuh wilayah Pedesaan.
  • Pembangunan dan Modernisasi yang dilakukan pada Pedesaan tentunya tidak terlepas dari Negara Negara barat yang seolah seolah menjadi sebuah kiblat Negara Maju.
  • Dengan Pembangunantersebut yang juga berarti berkembangnya Teknologi dan system Informasi bagi masyarakat desa, memberikan Implikasi pada Perubahan cara berfikir, nilai nilai serta budaya masyarakat desa yang mengarah pada kebudayaan barat sebagai titik awal terjadinya Perubahan Sosial masyarakat menuju nilai nilai dan kebudayaan barat.
  • Pada MAsyarakat Pedesaan, Westernisasi memberikan dampak pada sisi Kebudayaan dan sisi Perekonomian.
  • Pada Sisi Kebudayaan, maka akan merubah nilai nilai, cara pola pikir, gaya hidup, dan kebiasaan hingga tindakan tindakan masyarakat dalam Pola Sosialisasi masyarakatnya yang akan meninggalkan budaya ketimuran, agama, dan tradisi asli kedaerahannya yang kesemuanya betransformasi menjadi Kebudayaan barat.
  • Pada Sisi Perekonomian, maka akan berdampak pada matinya Pertanian dan Perkebunan yang selama ini menjadi sumber utama penggerak perekonomian karena factor SDM dan persaingan dengan produk asing. Maka dampak lebih lanjut adalah terjadinya krisis, dan bisa jadi mengancam kesejahteraan masyarakat desa secara berlanjut.